Buku Baru "Surat Rindu untuk Ayah di Pulau Buru"

October 6, 2007 by admin  
Filed under Buku

Bekerjasama dengan Blandring Book, INDIPT menerbitkan sebuah buku berjudul “Surat Rindu untuk Ayah di Pulau Buru”. Buku yang totalnya setebal 210 halaman ini ditulis oleh Muinatul Khoiriyah, mantan ketua PC IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul ‘Ulama) Kebumen dan peneliti Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) Indonesia. Buku ini diberi kata pengantar oleh tiga orang yakni, pertama, Hersri Setiawan, kedua Ir. KH. Salahuddin Wahid dan ketiga Dr. Baskara T Wardaja SJ. Selain itu, buku ini juga diberi epilog (kata penutup) oleh Prof Paul de Blot SJ. Buku ini terbit bulan ini, September 2007.

Buku ini berisi tentang seorang perempuan bernama Rani Prihatini, bocah berumur tiga tahun ketika tahun 1966. Sebagaimana diketahui bahwa tahun 1966 adalah tahun-tahun ketika mencuat tragedi yang kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September. Rani, nama dalam cerita ini, adalah salah seorang bayi tiga tahun dari seorang ayah yang dituduh PKI ketika itu. Tidak dibunuh, melainan ayah Rani dipenjara di Pulau Buru selama 14 tahun. Ketika beranjak remaja, Rani –yang tidak tahu apa-apa karena ketika tragedi itu terjadi dia masih seorang bayi– mengalami nasib harus dihina, dicemooh, dikucilkan dan diperlakukan yang idak semestinya oleh teman-temannya karena ayahnya dipenjara di Pulau Buru.

Sebagaimana umumnya seorang bocah, Rani merindukan ayahnya pulang untuk mengantar dirinya pergi ke sekolah, merindukan belaian tangan ayah ketika hendak tidur, menemaninya bermain sepeda, dan seterusnya. Kerinduan itu ia tumpahkan dalam surat yang dia kirim untuk ayahnya. Surat yang hanya ditulis dalam kartu pos. Surat yang sama sekali tidak layak disebut surat politik, karena isinya hanya kerinduan dan pertanyaan-pertanyaan tentang ‘kapan ayah pulang’?

Dalam kontek penulisan sejarah Indonesia, buku ini menjadi penting.

Pertama, karena Rani bukanlah seorang tokoh, pejabat apalagi petinggi militer. Dia hanyalah seorang bocah, yang kini berusia makin sepuh. Penulisan sejarah dengan menampilkan “wong cilik” sebagai subjek merupakan hal baru yang memberi warna dalam khasanah sejarah Indonesia.

Kedua, buku ini tidak berbicara tentang politik walau berbackground tragedi 1966. Melainkan buku ini lebih bercerita tentang seorang bocah yang beranjak remaja lalu dewasa, tetapi dalam perjalanan hidupnya dia menjadi korban politik itu,

Buku ini makin bermakna dengan adanya tiga prolog, dan satu epilog. Berikut ini adalah image sampul bekakang buku tersebut yang memuat ringkas kecil dari prolog dan epilog dalam buku itu.

Lebih lengkap tentang buku ini bisa dlihat disini.

Comments

10 Comments on "Buku Baru "Surat Rindu untuk Ayah di Pulau Buru""

  1. abduh hisyam on Sun, 7th Oct 2007 21:11 

    Bravo, mbak Iin. Selamat atas terbitnya buku anda. Saya merasa semakin tertinggal saja. Iri banget saya. Sekalipun saya belum baca buku ini, namun saya jadi ingat kisah seorang bapak yang melarikan diri ke luar negeri karena peristiwa 1965. Sang bapak ketika meninggalkan Indonesia meninggalkan seorang anak perempuan berusia empat tahun. Sekalipun ia sudah berada di luar negeri hingga 30 tahun lebih, namun di mata sang bapak anaknya adalah si kecil yang berusia empat tahun. Saat ia diperbolehkan pulang ke Indonesia, alangkah terkejutnya sang bapak ketika anaknya sudah jadi peerempuan dewasa, dan bukan lagi gadis kecil usia empat tahun. Pertemuan yang sangat mengharukan. Mungkin novel mbak Iin ini lebih menyentuh. Saya ingin segera membaca buku ini. Harganya kok nggak dicantumkan? Selamat, sekali lagi.

  2. mustolih brs on Mon, 22nd Oct 2007 14:36 

    Selamat Buat Mba Iin, Kang Tajib dan kawan-kawan di komunitas Blandring Book, Indipt Press.

  3. salim wazdy on Sat, 3rd Nov 2007 05:46 

    selamat buat iin atas terbitnya buku anda. membaca kisahnya, terpaksa saya meneteskan air mata

  4. hamid on Sun, 11th Nov 2007 08:53 

    Mba iin, dimana kami-kami bisa dapatin tuh buku ? kayaknya ok banget. Informasinya mba termasuk harganya juga. Trims

  5. Gaspar on Wed, 26th Dec 2007 06:01 

    Hello..dimana saya bisa mendapatkan buku ini? berapa harga buku ini? saya mau beli tapi saya tinggal di malaysia jadi agak susah..bisa bantu saya bagaimana mendapatakan buku ini?

  6. Wiwin on Fri, 25th Jan 2008 04:54 

    salam…
    Walaupun saya belum membaca buku tersebut namun dalam lubuk hati saya yang terdalam bisa merasakan pedihnya nubari ini ketika mendengar kata PULAU BURU. Biar bagaimanapun juga saya yang pernah lahir dan besar di Buru dari orang tua yang berpredikat eks tapol Buru bisa merasakan bagaimana situasi yang dialami seorang bocah kecil, Rani. Buru yang telah saya tinggalkan selama 12 th tetap menjadi kenangan dan bagian dari hidup saya. Yang pasti Buru tetap menjadi tanah tumpah darah saya walaupun di mata dunia ia adalah masa lalu kelam sejarah bangsa ini. Terima kasih bahwa dengan adanya buku ini saya akan terus merasa rindu pada kampung halaman walaupun Buru adalah kenangan yang sangat mengerikan bagi kebanyakan orang. Thanks…

  7. Achmad Marzoeki on Wed, 27th Feb 2008 06:53 

    Selamat deh, semoga bisa mendorong wong-wong Kebumen yang lain untuk menerbitkan buku.

  8. A-lan on Fri, 29th Feb 2008 23:54 

    congratilation for you…..this book gives people to understand how to appreciate other people dignity. By the way , when will the book publish? i hear thai it will be carried to the event “Bedah Buku”. So all of the people….know, buy, read, understand and move for struggle, shifting the people to get liberty……..the book is showing that local people can do what urban people do. even more than……
    once more……congratulation…..for the author,,,,indipt comunity,,,,,,blandring book.

  9. iwor on Sat, 15th Mar 2008 13:18 

    Selamat buat mba yu Iin. Wis suwe ora ketemu, muncul-muncul wis gawe buku. Kira-kira aku bisa pesen ora? soale aku adoh kes kebumen.

  10. Mas ezra on Thu, 3rd Apr 2008 09:31 

    IYAH NICH SAMA JUGA “kayak ketinggalan kereta” PADAHAL AKU SERING KE KEBUMEN MENGUNJUNGI KAWAN DAN KELUARGA DARI KEKASIH.

    Tapi baru hari aku d pertemukan oleh Tuhan tentang keberadaan Indipt, dan dengan itu saya di beritahua da salah satu saksi sejarah yang harus kita luangkan waktu untuk di lirik dan d pahami makna d balik ceritranya.

    Kepada Ibu Iin.
    “Selamat atas Lounchingnya buku anda, n mohon sudi kiranya jika saya datang ke Bumen untuk menyempatkan waktu menandatangi Novel anda yang saya miliki”
    Mohon jika Saya bisa beli di INDIPT,
    berikan informasi tentang prosedurnya.

    Tks
    Mas ezra
    ezrapurnama03@yahoo.com
    081572770409

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!