Kedua Anak Perempuan SD itu Seperti “Orang Dewasa”

Saya berlari cepat (tentu pake motor, he he he he) menuju salah satu apotik di Kebumen. Gigi saya tiba-tiba Kambuh, dan saya harus membeli obat untuk menghentikan sakitnya. “Aja diontal sit mas (Jangan diminum dulu mas),” teriak perempuan pelayan apotik setelah memberikan obatnya kepada saya. Dia berteriak begitu karena saya langsung membuka bungkusan obat, dan mau meminumnya di tempat itu. “Sudah makan belum?” tanya pelayan. “Sudah, tadi pagi pukul 09.00,” jawab saya. “Sebaiknya makan siang dulu,” katanya kembali. Tanpa bertanya saya menutup bungkusan obat, meminta diri dan mencari warung untuk makan siang.Saya mencari warung makan terdekat. Beberapa warung makan penuh, mungkin karena waktu makan siang. Saya cari yang agak sepi, dengan maksud agar tidak ngantri pelayanan. Warung soto menjadi pilihan, karena kosong pembeli. Saya sendirian di warung itu, berpesan satu mangkok soto ayam, sampai beberapa saat kemudian masuk dua orang pembeli. Kaget saya, karena yang masuk adalah dua orang perempuan.  Satunya berjilbab, satunya lagi rambutnya panjang terurai sampai bahu. Pakaiannya dua orang perempuan itu, yang tepatya adalah anak-anak, berseragam sekolah dasar, merah dan putih.

Saya perhatikan dua anak itu, sampai saya lupa bahwa gigi saya sedang sakit. Saya perhatikan dari cara duduknya, cara memesan soto, dan cara berdialognya, tidak nampak aura anak-anak. Yang terkesan bahwa dua anak perempuan SD itu adalah dua perempuan dewasa, yang terbiasa makan di warung. Tatapan mata saya ke dua anak perempua itu berhenti ketika  pelayan warung mengantarkan satu mangkok  soto hangat ke meja saya. Saya ambil kecap, lalu sambal, mengaduknya, sambil sesekali mata saya tertuju kepada dua anak SD itu.

***
Satu anak yang berjilbab membuka tas, lalu mengambil satu buku tulis. Dari tempat duduk saya, yang hanya berjarak sekitar dua meter, terlihat jelas buku yang diambil anak itu adalah buku tulis pelajaran sekolah. “Pak guru…….kurang jelas menerangkan. Catatan saya kurang lengkap,” kata anak yang berjilbab. Terdengar jelas apa yang dikatakannya, tapi tak jelas, atau tepatnya saya lupa, nama pak guru yang disebut anak perempuan berjilbab itu.

“Catatan saya juga kurang jelas,” kata anak perempuan satunya lagi. “Nanti sore kita gabung saja tulisanku dan tulisanmu.”

Sang pelayan telah selesai meracik soto pesanan dua anak SD itu, dan langsung mengantarkan di mejanya. Sambil menikmati soto di meja saya, dan saya lupa bahwa saya sedang sakit gigi, saya perhatikan dengan detil bagaimana cara kedua anak itu mengambil kecap, sambal, cara mengaduknya, dan cara menyantapnya. Saya tidak percaya, atau karena penglihatan saya yang terganggu oleh rasa sakit gigi walau ketika itu terasa sudah lenyap, yang ada dalam penglihatan saya, bahwa kedua anak perempuan itu sangat tidak terkesan masih anak-anak. Yang terkesan dari dua perempuan kecil itu adalah dua perempuan dewasa.

“Anak-anak sekarang, masih seumuran anak SD, juga sudah banyak yang terlihat dewasa,”  sebuah kalimat yang sering saya dengar tiba-tiba melintas di telinga. “Anak-anak sekarang juga sudah banyak yang tumbuh payudaraynya, padahal masih seusia SD,” kalimat berikutnya menyusul, begitu jelas. Sampai akhirnya, saya memperhatikan struktur tubuh anak itu. Untung posisi tempat duduk saya saat itu cukup strategis untuk melihatnya. Dada kedua anak perempuan itu masih datar, belum tumbuh payudara. Masih anak-anak. Tapi, cara makannya, itu gaya orang dewasa. Dan, kedua anak itu sambil makan terus mendiskusikan pelajaran sekolah.

Dari diskusi tentang catatan yang tidak lengkap, tentang sejarah, matematika, dan macam-macam pelajaran lainnya. Bahkan sesekali tentang politik, paling tidak karena menyebut tentang golput dalam pilgub beberapa waktu lalu. “Bapaku kemarin tidur, ketika Pilgub. Dia tidak datang mencoblos,” kata anak yang tidak berjilbab. “Bapakku datang, karena kalau tidak datang, malu dengan tetangga,” kata anak satunya.

Terdengar begitu jelas di telinga saya. Bahkan ketika kedua anak itu berdiskusi tentang gurunya. “Bu guru Santi itu orangnya baikan, tapi cara mengajarnya tidak begitu jelas,” kata anak yang tidak berjilbab. “Kalau pak guru Suaib itu mengajarya cukup jelas, tetapi dia tidak pernah tertawa. Sehingga teman-teman juga banyak yang mengantuk,” kata anak satunya lagi. Terus diskusi kedua anak itu berlangung, sampai saya selesai makan.

Saya ambil obat, meminumnya, beberapa saat masih duduk, sambil mendengarkan kedua anak itu ngobrol tentang pelajaran mereka, guru-guru mereka, bahkan juga tentang teman-teman mereka.

***

Gigi saya tidak lagi sakit. Saya tidak tahu, apakah sembuh karena obat yang saya minum, atau karena melihat kedua anak SD itu. Sampai rumah kembali, bayangan tentang “kedewasaan” anak SD itu masih terngiang jelas di kepala saya.

Ya, terngiang jelas, karena selama delapan tahun terakhir saya menetap di kota ini, saya belum pernah menjumpai sekalipun pemandangan seperti yang saya lihat barusan. Kalau anak SMU makan di waung, ngobrol ngalor-ngodul dengan eman-temannya, dengan fokus maslah cowok dan cewek, acara televisi, sinetron, itu terbiasa saya lihat sendiri. Tapi, anak SD, makan di warung, cara pesan dan makan seperti orang dewasa, ditambah lagi diskusi mengenai isi pelajaran yang diterima di sekolahnya, sunnguh pemandangan yang baru kali ini saya liha di kota ini.

Walau sekilas, saya merasa bangga melihat kedua anak perempuan SD itu. Saya senang bukan karena melihat dua anak SD itu gigi saya menjadi berkurang sakitnya, tetapi karena saya melihat ada harapan cerah dari anak-anak Indonesia, khususnya yang tinggal di kota ini. Harapan cerah karena yang menjadi topik pembicaraan bukan masalah acara televisi, bukan acara main-main, tetapi apa yang sedang mereka pelajari di sekolahnya.

Semoga suatu saat saya bertemu kembali dengan anak itu, dan anak-anak lain yang serupa.

Akhmad Murtajib

Sumber tulisan

  • Share/Bookmark

Filed Under: Uncategorized

Tags:

About the Author:

RSSComments (1)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. aguspur says:

    Kang Tajib,
    sing jenenge bocah kuwe duwe ciri : IMITATIF … ya udu salahe bocah… lha wong ramane karo biyunge ya sok nuntut sing aneh-aneh. Kudu rangking satu, kudu bisa nari, matematikane kudu jos, melu kontes-kontesan …
    Kang, bocah siki ora tau dolan. Apa maning kaya cilikanku angon wedhus nang sawah, golet welut … dll.

    Anakku klas 3 SD, wingi prei. Tek kon dolan ora gelem … tek ajak dolan maring lapangan, ora gelem. Tek ajak mancing … ya ora gelem.
    Jebule … ana PR sekang gurune sapirang-pirang …
    jal primen kuwe … ?

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.