Pertanian Organik, Pertanian Jadul

Oleh: Unwanullah Masum

Tulisan ini awalnya adalah tulisan komentar Unwanullah Masum disini. Karena menarik dari sisi 1) tulisan (unwanullah juga berniat mengikuti sekolah menulis), dan 2) isinya juga relevan, maka tulisan ini dimasukan di katogori ini.

————————-

Membaca tulisan tentang belajar bikin pupuk organik lagi….Aku jadi ingat, ketika masih di Banyumas aku punya kawan seorang petani namanya Pak Sugeng. Pak Sugeng mempunyai sawah seluas 100 ubin (1400m2) dan sejak tahun 1999 menggarap sawahnya secara JADUL (jaman dulu). Ada beberapa alasan mengapa Pak Sugeng aku katakan bertani dengan cara JADUL;

  1. Pak Sugeng tidak menggunakan “benih unggul” (menurut pemerintah) seperti varietas IR 64, CIsadane, Ciherang dll. Pakj Sugeng justru menggunakan benih lokal dan kuno seperti; rajalele, pandanwangi, menthik wangi. Ketika aku tanya mengapa menggunakan benih lokal dan kuno? tidak menggunakan “bibit unggul” yang dikeluarkan oleh pemerintah? Pak Sugeng menjawab bahwa benih lokal justru mempunyai banyak keunggulan, seperti berasnya lebih pulen, wangi, nasinya juga lebih tahan lama. Selain itu, hasil panenan benih lokal bisa digunakan sebagai benih lagi, dan ebih tahan terhadap hama / penyakit. Meskipun memang usia benih lokal lebih lama dari benih unggul dan produktivitas benih lokal tidak setinggi benih unggul. Benih unggul yang dikenalkan sejak tahun 70-an ternyata adalah hasil rekayasa, dimana hasil panen dari benih unggul tidak bisa digunakan sebagai benih lagi, kalaupun bisa paling 1-2 turunan itupun dengan hasil yang juga menurun.
  2. Dalam melakukan pemupukan Pak Sugeng sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia (misalnya; urea, TSP, ponska, dll) tapi murni menggunakan pupuk kandang dan kompos. Untuk kebutuhan Pupuk, Pak Sugeng memanfaatkan kotoran ternak yang dimilikinya dan limbah rumah tangga yang dengan mudah bisa membusuk seperti daun-daunan, sayur-2an, dll.
  3. Demikian pula dalam pengendalian hama (Pak Sugeng tidak menggunakan istilah PEMBASMI HAMA, karena menurutnya hama adalah bagian dari alam yang secara alamiah mempunyai musuh alami, misalnya tikus mempunyai musuh alami ular sawah, kucing, burung hantu dll. belalang mempunyai musuh alami burung, burung mempunyai musuh alami burung pemakan daging, dll). Jadi Pak Sugeng sifatnya hanya mengendalikan hama, itupun jika sifatnya berlebihan. Pak SUgeng menggunakan cara PHT (penanganan Hama terpadu). Untuk pengendali hama yang berlebihan pak Sugeng menggunakan bahan-bahan alamiah lainnya yang sifatnya gatal, beracun, pahit, langu, memabokkan. misalnya untuk mengendalikan hama walang sangit, uret Pak Sugeng menggunakan daun pucung (daun pohon klewek), batang tuba, biji mahoni, brotowali, buah majapahit, dll. caranya dengan dibuat ekstrak dan disemprotkan ke tanaman atau lahan.
    3 hal di atas yang menjadi alasan, mengapa pertanian organik aku katakan pertanian dengan cara JADUL. Meskipun JADUL ternyata pertanian ini mempunyai banyak manfaat dan kelebihan;
    • Tanah menjadi lebih subur, karena pemberian pupuk kandang dan kompos menjaga organisme (jasad renik) dalam tanah, cacing, mikroba baik, dll yang bertugas menggemburkan tanah. Sehingga tanah menjadi lebih subur, lembut dan enak dicangkul. berbeda dengan penggunaan pupuk kimia yang sifatnya hanya memenuhi kebutuhan tanaman tanpa mempedulikan keadaan tanah, sehingga tanah menjadi keras, bantat dan gersang.
    • Hama (OPT, organisme pengganggu tanaman) juga bisa dikendalikan populasi / jumlahnya. karena yang digunakan adalah musuh alami hama dan pengendali yang sifatnya alami.. Sedangkan ketika menggunakan pembasmi kimia, menyebabkan hama membangun kekebalan tubuh (anti bodi) sehingga penggunaan pembasmi hama (ppestisida, fungisida, dll) dari waktu ke waktu semakin meningkat. Selain itu, musuh alami OPT juga banyak yang mati (anda yang berusia 30 tahun ke atas dan dulu sering ke sawah, pasti tahu bahwa dulu masih banyak ular sawah, belalang, burung, laba-laba, dll. Coba sekali-kali anda ke sawah dan cermati, apakah burung, ular sawah, belalang dan laba-laba masih sebanyak dulu?) dan ini tentu mengganggu rantai makanan.
    • Pertanian modern menghasilkan padi (dan hasil pertanian lainnya) yang banyak mengandung bahan kimia, hal ini tentu tidak sehat bagi manusia, karena padi (dan hasil pertanian lainnya) kita konsumsi setiap hari sehingga walaupun hanya sedikit sekali mengandung residu kimia (dari pupuk dan pembasmi hama) karena dikonsumsi secara terus menerus tentu akan menumpuk (terakumulasi) di dalam tubuh.

Demikian sedikit cerita dari teman yang menjadi petani, yang ternyata kaya dengan pengetahuan.

Dari cerita kawanku seperti aku tulis di atas, ternyata Pertanian Organik adalah juga kaya dengan nilai-nilai yang itu bisa digali bersama dengan kawan-kawan petani.

Sehingga apa yang dilakukan oleh kawan-2 warga komunitas Kampung Jagad sangat sejalan dengan tujuan Kampung Jagad sendiri yang (salah satu) tujuannya untuk ikut “MENUNDA’ kehancuran jagad raya tempat kita manusia dan kawan-nya (hewan, tumbuhan, mikroorganisme, tanah, air, batu, dan lainnya berada.
Harapannya, Proses Belajar Bikin pupuk organik itu nantinya akan bisa diterapkan, minimal oleh warga belajar sendiri, dan secara bertahap, pelan tapi pasti bisa ditularkan ke warga-warga lainnya, karena kita semua adalah warga KAMPUNG JAGAD……………
SALAM JADUL!!!!

  • Share/Bookmark

Filed Under: Karya Komunitas

Tags:

About the Author:

RSSComments (2)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. zainur says:

    sebenarnya masyarakat sekarang sudah semakin pandai dan tahu bagai mana cara melestarikan lingkungan. tetapi kenapa masyarakat lupa akan lingkungan sekitar?
    contonya saja lahan pertanian di INDONESIA sudah semakin sempit malah gedung dan pabrik semakin bertambah,dan pabrik kalau membuang limbah asal-asalan!
    tanah sekarang sudah terkontaminasi limbah-limbah dari pabrik yang tidak bisa diuraikan oleh mikrooganisme dalam tanah.
    tolong berikan pendapat anda tentang hal ini?

  2. Unwanmasum says:

    @Zainur

    terimakasih. saya sepakat dengan anda bahwa masyarakat kita semakin pandai dan tahu. akan tetapi yang perlu diingat adalah pandai dan tahu belum tentu bisa. jadi dalam konteks pelestarian lingkungan, benar bahwa masyarakat kita semakin tahu dan pandai tapi hal ini tidak dibarengi dengan tindakan, aksi. sehingga yang terjadi hanyalah wacana “pelestarian lingkungan” saja. contoh kongkret, kebersihan sebagian dari iman. hampir semua orang tahu tentang ini. Tapi mengapa membuang sampah masih sembarangan? karena membuang sampah pada tempat sampah belum menjadi budaya, baru sebagian kecil dari kita yang sudah berbudaya membuang sampah pada tempatnya. Itu baru contoh kecil dari sebuah upaya pelestarian lingkungan.

    Idealnya upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan oleh institusi sosial kita. ini bisa dimulai dari institusi terkecil, yaitu keluarga. jika sebuah keluarga sudah menanamkan satu hal saja, misalnya membuang sampah pada tempat sampah, saya kira ini dampaknya akan besar. Karena perilaku dan kebiasaan anak-anak juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana kebiasaan dan perilaku anggota keluarga yang lain. Selain keluarga, institusi sosial seperti sekolah, TPQ, pengajian-pengajian, kebaktian-kebaktian juga bisa menjadi sarana untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan, melalui membangun budaya membuang sampah pada tempatnya. itu dalam konteks institusi sosial.
    kalau upaya ini dilakukan secara serius, kontribusinya terhadap upaya pelestarian lingkungan sangat besar. Karena selain sampah bisa dikelola dengan baik, ada hal yang lebih penting yaitu tentang budaya tadi.
    Kemudian berkaitan dengan lahan pertanian di Indonesia yang semakin sempit tapi tetap saja ditanami gedung-gedung dan pabrik-pabrik. Hal ini terus terjadi karena kebijakan pemerintah berkaitan dengan tata guna lahan tidak jelas, apalagi implementasinya.
    idealnya, lahan pertanian yang ada dipertahankan karena ke depan kebutuhan akan pangan pasti meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. untuk memenuhi kebutuhan industri dan pemukiman, pemerintah bisa memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif. misalnya di daerah-daerah yang gersang dan tandus. Tentang pabrik yang membuang limbah secara asal-asalan, lagi-lagi kebijakan pemerintah yang tidak tegas dalam menindak pabrik-pabrik yang mencemari lingkungan, pemerintah lebih memihak perusahaan yang memiliki modal daripada kepentingan masyarakat sekitar lokasi perusahaan. misalnya kasus Buyat, kasus pembuangan limbah tailing di Papua, dll.
    terakhir tentang tanah. mungkin spesifik ke tanah pertanian. Selain terkontaminasi limbah-limbah pabrik, sebagian besar lahan pertanian di Indonesia juga telah terkontaminasi oleh penggunaan Saprodi Kimia (pupuk dan pestisida). Setiap tahun kecenderungan penggunaan pestisida dan pupuk kimia terus meningkat. Residu kimia ini bukan hanya tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme dalam tanah akan tetapi juga membunuh banyak sekali organisme yang sebenarnya berfungsi sebagai musuh alami hama dan penyubur tanah. Kalau kita cermati, di lahan pertanian sekarang populasi musuh alami hama (seperti laba-laba, ular sawah, burung (hantu), dll sudah semakin berkurang. dan cacing yang berfungsi untuk menyuburkan tanah populasinya juga semakin berkurang. Hal ini menyebabkan tanah menjadi keras.
    Untuk mengembalikan kesuburan tanah dan organismenya bukan perkara mudah. salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan kembali ke alam, bertani organik dengan menggunakan saprodi (bibit, pupuk dan pestisida) alami. jika hal ini dilakukan dalam waktu beberapa tahun, kesuburan tanah akan berangsur pulih.

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.