Darimana ide tulisan bisa kita dapat?

Ide untuk jadi bahan tulisan itu banyak sekali kawan. Tak perlulah ide-ide itu besar seperti tentang globalisasi, nasionalisme, politik kelas tinggi atau ide besar lainnya. Cukplah ide yang kita ambil di sekeliling kita. Kalau kita cermat, ada ratusan bahkan ribuan ide bisa kita ambi dari sekeliling kita. Misalnya ide itu berangkat dari kegelisahan kawan-kawan ketika melihat sawah di kampung kita. Dari sawah itu, kita bisa menulis tentang banyak hal. Bahkan, kalau kita mau, ribuan halaman open office (worldnya Linux) sangat cukup bahkan kurang untuk tulusian kita.

Dengan melihat sawah di kampung kita, kawan-kawan bisa menulis tentang, pertama, mengapa para petani mesti terus menambah pupuk dari satu musim tanama ke musim tanam berikutnya. Bila musim tanam bulan ini petani misalnya menghabiskan 50 kg pupuk kimia, mengapa musim berikutnya mesti lebih dari 50kg. Penambahan ini seolah menjadi wajib, sebab tanpa penambahan itu akan berakibat hasil panen akan menurun. Kita bisa bertanya, mengapa demikian. Nah, jawaban itu bisa kita uraikan dengan panjang lebar. Akan menarik lagi jika pemaparan uraian itu berdasarkan kisah pengalaman kamung X misalnya.

Tentang  sawah itu, kita juga bisa menulis tentang, kedua, mengapa petani menanam selama tiga kali dalam satu tahun padahal tahun-tahun sebelumnya hanya dua kali? Kawan-kawan bisa melihat topik ini dari berbagai sudut. Misalnya, jangan-jangan karena kemiskinan  yang begitu luar biasa sehingga pola tanam menjadi tiga kali. Atau, mungkin karena faktor lain, misalnya, kalau dulu mereka menanam dua kali dan satu musim lainnya untuk tanam palawija. Kini mereka tidak lagi menanam palawija disebabkan karena begitu banyak hama, tikus khususnya, yang akan menyerang tanaman mereka. Bertanyalah mengapa, kawan-kawan akan menemukan jawabannya. Dan dari jawaban itu kita bisa jadikan bahan tulisan.

Itu baru dua contoh, betapa ide banyak sekali muncul hanya dengan melihat sawah. Apalagi jika kita dalam melihat sawah itu mengguakan model kacamata yang berbeda-beda. Kita bisa melihatnya dari sudut ikan-ikan misalnya. Kayaknya jauh, tapi jelas menarik bila kita melihat sawah dengan memfokuskan pada titi ikan-ikan, sambil bertanya, mengapa ikan-ikan di sawah itu kini jarang sekali. Bukankah dulu, di sawah-sawah itu, begitu banyak ikan? Mengapa kini hanya kecil-kecil? kemanakah sebenarnya ikan-ikan itu? Kita kembangkan pertanyaan menjai banyak, dan jawabannya adalah bahan untuk tulisan kita.

Intinya, lihalah sawah kita. lihatlah dengan model kacamata yang berbeda-beda. Kita akan menemukan banyak sekali ide tulsian yang bagus. Dan, akan lebih bagus lagi bila tulisan kita nanti, apabila dibaca, akan menyadarkan kepada banyak orang tentang pentingnya kita menjaga tanah sawah kita dari kerusakan. Soalnya, setelah saya pikir-pikir, menulis tentang sawah, bila ujungnya bukan untuk mendorong pembaca memperbaiki kualitas tanah yang makin rusak itu, kayaknya pahala yang kita dapat sedikit ya..he he he he

Akhmad Murtajib

  • Share/Bookmark

Filed Under: Tips Menulis

Tags:

About the Author:

RSSComments (2)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. Mustolih Brs says:

    Bahkan ide-ide seringkali nongol saat kita berada di kakus, bahkan lebih gila lagi Mahatma Gandhi memasang lemari bukunya di dalam kakus, agar sambil e..e…ee…eh bisa baca buku, jadi tidak ada waktu terbuang percuma. Bisa ditiru tuh…

  2. samsul says:

    ide dan gagasan sebenarnya menjadi sebuah awalan dalam mengawali tulisan yang ilmiah, awalnya ide muncul menjadi sebuah gagasan, yang kemudian akankah akan di aktualisasikan dengan coretan pena ataukah akan penghantaman pada tombol keyboard. ya terserah bagaiman akan menjad sebuah karya keyboard atau pena

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.