Banyak mantan Mahasiswa bingung hidup di Kebumen

Beberapa kali bertemu dengan orang Kebumen yang mantan mahasiswa dari  berbagai kota besar Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dll. Mereka seringnya bercerita, apa yang mesti bisa dilakukan di Kebumen selepas kuliah. Intinya, mereka banyak yang bingung di kampung sendiri. Bingung karena tidak punya pekerjaan, tidak punya teman, dan sebagainya. Anda termasuk orang yang demikian?

Bila ya, gak usah khawatir. Silahkan bergabung disini, Kampung jagaD. Mari kita kembangkan kampung kita menjadi ramah lingkungan, ramah persaudaraan, sekaligus kampung yang memberdayakan. Tentu bila demikian, akan banyak hal yang memberi kita harapan. Kecemasan kita akan masa depan menjadi berkurang. Karena sesungguhnya, sumberdaya di kampung kita, bila kita bangun dan olah, akan memberikan banyak hal kepada kita.

Anda boleh tidak percaya, tapi sangat kami harapkan bila mencoba memuainya… :D

  • Share/Bookmark

Filed Under: Editorial

Tags:

About the Author:

RSSComments (16)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. Empun Kanwa says:

    Di Kebumen Mau Jualan Apa ?
    —————————————–
    Lulus perguruan tinggi, ilmu juga tinggi. Modal disetor untuk mendapat ilmu sudah banyak. Kulakan ilmu dengan harga mahal, tentu harus bisa dijual dengan harga mahal pula. Itu kan prinsip dasar ekonomi. Kita kan homoeconomicus ? Apalagi di era perdagangan bebas. Apa-apa harus bisa bebas diperdagangkan.
    Kalau ilmu yang kulakannya sudah mahal, kok gak bisa dijual dengan harga mahal, ya gak sesuai dengan prinsip dasar itu.
    Masalahnya, yang bikin kita gak bisa jualan itu karena dua hal; ilmu kita yang kelewat mahal, atau pasar yang gak butuh ilmu kita.
    Kalau harga mahal, bisa terus diobral. Pembeli berduyun-duyun. Kalau perlu ada masa promosi, gratis dululah untuk masa tiga bulan atau enam bulan. Kita demonstrasikan ilmu yang kulakan di kampus kepada warga desa. Misal ilmu bertani, ilmu berdagang yang baik, ilmu merakit onderdil, ilmu meramu jamu, atau bahkan ilmu mempercantik penampilan tubuh. Juga ada ilmu berjualan hadits atau ayat untuk diecerkan ke masyarakat yang lagi butuh siraman rohani.
    Namanya juga promosi ilmu, tentu dimasukkan sebagai pengeluaran tanpa pemasukan. Rugi terus itung-itung modal operasional. Kapan bisa ada pemasukan, tentu kalau sudah menemukan pasar. Jadi, gak perlu bingung kan lulusan perguruan tinggi cari kerjaan di kampung halaman ? Memang perlu waktu untuk mendirikan toko ilmu di kampung. Telaten apa nggak ? Kalau ujug-ujug ingin punya supermarket ilmu yang menghasilkan duit banyak, ya gak mungkin bisa dilakukan di desa. Begitu kang ?

  2. dariman says:

    Hmmmmmmmm……….

    Menurut pandanganku “yang mungkin salah”, bukan Di Kebumen Mau Jualan Apa ? Tapi, Di Kebumen Mau Apa Tidak ? Karena sekarang ini budaya Gengsi semakin mengidola, dan bisakah melihat dan memanfaatkan potensi disekitar lingkungan.

    Seorang sarjana pendidikan misalnya. Jika dikampungnya tidak mengajar atau jadi guru, maka dia akan melanglang buana kekota mencari pekerjaan, walau pun akhirnya dikota hanya bekerja menjadi penjaga toko atau kasir swalayan (itu lebih dibanggakan daripada dirumah membantu orang tua menggarap sawah).

    Bagi orang yang seperti itu (gengsi), mereka lebih bangga kerja menjadi penjaga toko daripada di kampung menjadi petani atau merintis usaha kecil-kecilan sendiri. Hal seperti itu sekarang sudah bukan lagi hal yang aneh, seorang sarjana bekerja menjadi kuli, penjaga toko, dan seterusnya. Ya…..karena itu tadi, mereka ingin menunjukan bahwa dirinya bisa bekerja. Yang menjadi pertanyaan adalah; Apakah membantu orang tua disawah bukan pekerjaan ?

    Maturnuwun

  3. faizah says:

    karena barangkali kurangnya fasilitas untuk pengembangan-pengembangan kelangsungan bakat para mahasiswa……………………….

  4. aldoroimusha says:

    Yang bisa kita lakukan dikebumen?

    Kebetulan sekarang saya masih kuliah dan sedang menyelesaikan tugas akhir saya. Saya kira banyak hal yang bisa kita kejakan di kebumen. kita harus belajar terus. kalo kita di dalam mobil, kita tidak bisa melihat mobil yang kita tumpangi. Tapi coba kita keluar sebentar pasti kita bisa melihat mobil yang kita tumpangi.

    Pengetahuan penting,modal penting dan tentunya pemerintah harus memberi fasilitas dan lebih gencar menyuarakan kemajuan Kebumen.
    Saya kira pemerintah nggak punya suara untuk kemajuan Kota Kebumen, karena kebanyakan orang dari Kebumen menyumbangkan tenaga dan pikiranya dikota lain. Misalnya di Jakarta, Bandung, Surabaya dll.

    Kebumen Bingung
    Mau dibawa kemana ? apa yang bisa dibanggakan?
    Pendidikan? ekonomi? industri? perdagangan? pertanian? peternakan?
    Itu tugas kita sebagai generasi penerus.

    Kritik untuk pemerintah.
    Para Sarjana kita jangan hanya ditawari untuk jadi PNS.
    Seandainya akan dijadikan daerah pertanian jangan tanggung-tanggung membantu petani. Jangan gengsi udah jadi pejabat. Tolong rangkul para mahasiawa dan sarjana agar bisa membangun kebumen bersama-sama.

    mohon maaf bila kurang berkenan.
    siap menerima saran dan kerjasama untuk kemajuan Kebumen
    aldoroimusha@yahoo.co.id atau aldoroimusha@gmail.com

  5. Nunung says:

    Memprihatinkan ya Lahir dan hidup di Kebumen tapi tidak mengenal lingkungan sosial, ekonomi Kebumen, sehingga harus merasa khawatir dan memandang suram masa depan sendiri kalau hidup di Kebumen. Yah ini juga terjadi ketika saya baru pulang dari menuntut ilmu di kota besar beberapa tahun lalu ( Ceile…..sombong nih ! ). Ada kebingungan, keraguan serta kekhawatiran yang menghantui pikiran , bisa survive gak hidup disini!
    Tapi seiring berjalannya waktu ada tekad dan komitmen, kerikil-kerikil hidup bahkan batu besarpun bisa terpecahkan.
    Yang penting bukan dimana kita hidup tapi bagaimana kita menjalani hidup ! Salam……….

  6. unwanullah masum says:

    Menanggapi tulisan “Banyak mantan Mahasiswa bingung hidup di Kebumen”

    Adanya kasunyatan di atas memang cukup memprihatinkan bagi kita semua, karena mantan mahasiswa yang (mayoritas) juga menyandang gelar sarjana sering kali dinilai oleh masyarakat sebagai orang yang pandai, tahu dan bisa banyak hal. Aku sendiri kemarin malam ketika nongkrong di warung kopi dekat rumahku dan ngobrol dengan beberapa warga. Awalnya hanya ngobrol ngalor ngidul, tapi ketika temanya seputar masalah ekonomi dan pekerjaan, ada seorang warga yang nyeletuk (dengan bahasa Jawa tentunya); “kamu kan sekolahnya tinggi, pergaulannya luas, mbok itu semua digunakan untuk memajukan desa kita, membuat usaha yang bisa mempekerjakan banyak orang biar nggak pada nganggur”. Aku menjawab bahwa aku tidak seperti yang diduga oleh anda karena dalam hidup bermasyarakat aku juga masih dalam taraf belajar, selain itu aku juga belum memahami kondisi desa bagaimana mau melakukan sesuatu?
    Dari obrolanku dengan warga di warung kopi, aku merasa bahwa ternyata aku belum bisa berbuat apa-apa untuk desaku sendiri. Artinya anggapan warga bahwa mantan mahasiswa adalah seorang cerdik pandai bisa jadi salah, karena harapan mereka agar aku bisa ikut memajukan desa masih sebatas angan. Jangankan untuk memajukan desa, memajukan diri sendiri saja belum bisa.
    Ini hanya satu contoh tentang gamangnya mantan mahasiswa menghadapi kehidupan di habitat asalnya, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk melanjutkan dan membangun kehidupannya di luar habitat aslinya.
    Sebenarnya, kawan-kawan mantan mahasiswa tidak perlu bingung hidup di Kebumen, ketika kawan-kawan mantan mahasiswa yang sudah belajar banyak di bangku kuliah bisa membaca potensi dan peluang yang ada di sekitarnya. Selain itu, kita juga bisa belajar dari mereka-mereka yang bisa survive dan berhasil, sebagai contoh;
    1. Ada kawan alumni PTN dari Jogjakarta yang bisa survive dari dunia maya (internet), ia mampu melihat peluang kebutuhan orang tentang teknologi informasi semakin banyak dan ia mampu menangkap peluang itu untuk melakukan sesuatu.Dia membentuk usaha pembuatan web.Selain itu, dia juga mampu memanfaatkan internet sebagai akses berjejaring, berkawan dan informasi. Saat ini NGO yang digawangi oleh dia sudah eksis. Dari sini, dia bukan hanya bisa menghidupi dirinya sendiri, dia juga mampu membantu kawan-kawan yang lain yang belum punya pekerjaan sehingga bisa bekerja,
    2. Ada lagi seorang kawan yang bisa survive dan mapan dengan mengelola peternakan sapi, karena ia melihat potensi bahwa kebutuhan daging di Indonesia masih sangat kurang (Saat ini produksi daging dalam negeri hanya mampu memasok sekitar 72% dari kebutuhan nasional, sedangkan populasi ideal untuk mencapai target pencapaian pasokan 90% itu adalah 14,04 juta ekor atau setara dengan produksi daging sebesar 481 ribu ton. Jadi peluang pasar yang belum “terjamah” itu adalah melebihi dari 2,808 juta ekor atau setara dengan 96,2 ribu ton produksi daging, lebih lengkap baca di http://peternakan.litbang.deptan.go.id/.) Artinya bahwa masih ada peluang yang sangat besar di sini. Selain peternakan, sektor pertanian organik juga masih menjanjikan. Sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini kebutuhan akan makanan sehat semakin meningkat, hal ini belum diimbangi dengan ketersediaan yang cukup. Ini sangat perlu dikembangkan karena peluang pasarnya masih sangat luas.
    3. Misalnya lagi, ada seorang mantan mahasiswa yang saat ini cukup sukses di Kebumen, mapan secara ekonomi, jaringan luas dan menjadi orang penting di beberapa lembaga, baik pemerintahan maupun non pemerintahan.
    Nah, kalau kita gak mau bingung hidup di Kebumen. Silahkan belajar dari kawan-kawan mantan mahasiswa yang sudah sukses.
    “Kalau ingin pintar, mendekatlah kepada orang alim”
    “Kalau ingin eksis di politik, merapatlah ke politisi”
    “kalau ingin tidak bingung hidip di Kebumen, belajarlah pada mereka yang sudah mapan di Kebumen”

  7. wong edan says:

    mba nunung omongmu kuwi bener, bisa ga kita survive dikota kelakiran.

    tapi satu hal lagi
    wong pinter kadang kalah karo wong sing nasibe agi apik

  8. iwansetiawan says:

    Memang kasunyatan, saat ini para sarjana pada bingung mau ngapain?? pengine kerja tapi lapangan pekerjaan gak ada///>>>
    akhire ya nganggur gur gur….
    Kalau Kampung Jagad menawarkan solusi, kira-kira kongretnya apa ya????
    memberdayakan kampung yang seperti apa yang Kampung Jagad tawarkan????

  9. rojiji says:

    Tetanggaku pintar. Tak lulus D3 di Jogya, ngabdi jadi guru OR di SD, terus ikut PGSD, ada pemberkasan PNS ikut, skrg siap jadi guru PNS tanpa tes, hebat kan, kualitas… mbuh, sing penting bayare akeh!

  10. rojiji says:

    Tetanggaku pintar. Tak lulus D3 di Jogya, ngabdi jadi guru OR di SD, terus ikut PGSD, ada pemberkasan PNS ikut, skrg siap jadi guru PNS tanpa tes, hebat kan, kualitas… mbuh, sing penting bayare akeh! Bupatine ora ngurus iki…

  11. Syarif N says:

    kayakne mottone pak gubernur Jateng kudu dienggo kabeh wong. “balik deso mbangun deso.” lha mahasiswa wis disekolahne nganggo duit sing digali seko sawah-sawah neng deso, ora keno lali karo sangkan parane dari pinter. jenenge wae mbangun, kudu alon-alon lan bareng-bareng… yo ra…

  12. purnomo says:

    Kalau menurut pandangan saya.
    Memang beberapa dari putra daerah enggan untuk tinggal dan menetap di Kebumen (tapi tak semua), jangankan yang sudah kuliah, kadang-kadang yang baru tamat SMA/STM/SMEA saja, yang terpikir di benak mereka adalah bagaimana ia meninggalkan Kebumen. Jadilah mereka pergi, ada yang ke Bandung, Jogja, dan yang paling banyak adalah Jakarta. Itu di daerah saya (Sruweng).
    Maka memang perlu dari pihak Pemerintah Daerah harus benar-benar bisa memberikan solusi.

  13. agus_wieyanto@yahoo.co.id says:

    Sebenere ora ukur sing lulusan kuliahan tok sing mesti diajak mbangun desa, lha wong sing penggaweane nang sawah siki ya pada rame2 lunga ngenger meng kota, padahal ya nasibe durung karuan bisa turu lelet karo mangan sedina ping 3 kaya nek nang kampunge dewek.

    Lha sing lulusane duwur (kuliah) kadang bukan karena ora gelem(gengsi) urip nang tanah kelairane dewek, tapi ya dasare pancen blas ora ngerti arep ngapa lan misale arep usaha usaha apa, trus kepriwe cara mulaine.
    padahal wongtuane uwis nyekolahna duwur2, lha tinimbang isin mbok dadi omongan tanggane ya mending lunga buruh meng kota, sukur2 ulih penggawean sing layak.

    Aku dewek tau njajal nandur semangka nang alasku, jane ya lumayan, tapi aku malah bingung arep adol mengendi, tek tawakna meng tukang buah (jl. kusuma) jare uwis due supplier sing terpercaya, akhire tek bagi2 meng tangga2.
    Trus aku juga tau ngingu lele, tapi anu ukur belajar maca buku panduan, akhire ora dadi he he he,,,,,,,,

    kesimpulane lan jalan keluare kira2 kepriwe coba?

  14. agus_wieyanto@yahoo.co.id says:

    Sebenere ora ukur sing lulusan kuliahan tok sing mesti diajak mbangun desa, lha wong sing penggaweane nang sawah siki ya pada rame2 lunga ngenger meng kota, padahal ya nasibe durung karuan bisa turu lelet karo mangan sedina ping 3 kaya nek nang kampunge dewek. Lha sing lulusane duwur (kuliah) kadang bukan karena ora gelem(gengsi) urip nang tanah kelairane dewek, tapi ya dasare pancen blas ora ngerti arep ngapa lan misale arep usaha usaha apa, trus kepriwe cara mulaine. padahal wongtuane uwis nyekolahna duwur2, lha tinimbang isin mbok dadi omongan tanggane ya mending lunga buruh meng kota, sukur2 ulih penggawean sing layak. Aku dewek tau njajal nandur semangka nang alasku, jane ya lumayan, tapi aku malah bingung arep adol mengendi, tek tawakna meng tukang buah (jl. kusuma) jare uwis due supplier sing terpercaya, akhire tek bagi2 meng tangga2. Trus aku juga tau ngingu lele, tapi anu ukur belajar maca buku panduan, akhire ora dadi he he he,,,,,,,, kesimpulane lan jalan keluare kira2 kepriwe coba?

  15. Aguz says:

    Urip nang Kebumen bingung?
    Pancen kaya kue nyatane….

    Sebenere ora ukur sing lulusan kuliahan tok sing bingung arep urip nang kampung, apa maning arep mbangun desa, lha wong sing penggaweane nang sawah siki ya pada rame2 lunga ngenger meng kota, padahal ya nasibe durung karuan bisa turu lelet karo mangan sedina ping 3 kaya nek nang kampunge dewek. Lha sing lulusane duwur (kuliah) kadang bukan karena ora gelem(gengsi) urip nang tanah kelairane dewek, tapi ya dasare pancen blas ora ngerti arep ngapa lan misale arep usaha usaha apa, trus kepriwe cara mulaine. padahal wongtuane uwis nyekolahna duwur2, lha tinimbang isin mbok dadi omongan tanggane ya mending lunga buruh meng kota, sukur2 ulih penggawean sing layak. Aku dewek tau njajal nandur semangka nang alasku, jane ya lumayan, tapi aku malah bingung arep adol mengendi, tek tawakna meng tukang buah (jl. kusuma) jare uwis due supplier sing terpercaya, akhire tek bagi2 meng tangga2. Trus aku juga tau ngingu lele, tapi anu ukur belajar maca buku panduan, akhire ora dadi he he he,,,,,,,, kesimpulane lan jalan keluare kira2 kepriwe coba?

  16. wellyam shakespere says:

    boleh ikut nimbrung?aku pny ide,semisal mensuplay barang yg dibutuhkan dikebumen yg berasal dr daerah lain yg lebih murah ataupun sebaliknya,kl udah pny ide boleh tuh kerjasama usaha ama sy misalnya,he..hee..,kbtln aku udah lama gak tinggal dikebumen,sbtlnya ingin come back,kl ada yg berminat bs hbgi..aku yach

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.