Teologi Kampung JagaD (1)

Oleh Susilo Ari.

Saya jadi salah satu warga baru Kampung Jagad yang datang dengan semangat open-minded, wani goblog, gelem bingung, telaten mendengarkan dan siap menyerap. Lha gimana lagi, wong saya tergolong peserta mendadak dangdut eh mendadak kampungjagad.

Dari cerita inspiratif cekdam karangsambung-nya Pak Agus si pencoret kertas, saya pelan-pelan mencoba membatin, merasa-rasa, menimbang-nimbang, sambil nggrayangi apa yang ada di dalam benak lurahe kampungjagad. Kenapa lurahe merasa butuh melemparkan ajakan untuk ‘menajamkan teologi dan ideologi kampung-nya’.
Hasil penggerayangan saya begini:

  1. Rasanya ada kesepakatan awal teologis bahwa Allah Sang pencipta Jagad itu menciptakan dunia dan seisinya (termasuk manusia) dalam keadaan baik dan dengan maksud baik. Dalam memelihara dunia yang baik itu Allah mengajak manusia bekerja-sama dengan Dia, karena toh keberlangsungan manusia tidak lepas dari daya dukung dunianya.
  2. Menjadi masalah ketika manusia malah bikin mosak-masik dunia yang seharusnya ikut dia jaga. Atas nama banyak hal: kemusryikan, kebodohan, ekonomi, rendahnya pendidikan, kebijakan publik dll. Menjadi keprihatinan ketika dunia lambat-laun kehilangan daya dukungnya bagi keberlangsungan manusia. Dunia ciptaan Allah menjadi ‘kampungjahat’ yang tidak lagi indah dan bersahabat, tidak lagi membawa berkah, kotor, bau.

Saya rasa disinilah penajaman teologi kampungjagad terjadi: Kampungjagad bergulir dari wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dus, we get the point Mr.Tajib!

Berangkat dari kesadaran teologis itu Kampungjagad sendiri saya rasa menjadi tawaran ide, gagasan untuk menanggapi kegelisahan itu. Sebagai tawaran ide, tentu sifatnya normatif. Saking normatifnya malah imaginer. Tapi rupanya malam itu saya sudah mendengar ada langkah-langkah kecil dan upaya pendaratan ide tersebut. Situs komunitas ini salah satunya. Juga beberapa kegiatan yang ada di desa Gandhu (bener gandhu ya?). Lha ini udah masuk ideologi to?

Jadi rupanya pertemuan malam itu yang di fasilitasi kang ArisPanji, meskipun banyak ngakak dan ngekek-nya saya rasa sudah bisa ngoyoti penajaman teologi dan ideologi kampungjagad. lak ya gito to kang Aris?

Apa ini yang dinamakan praksis keagamaan? Beragama secara praksis? Dadi kyai ndalan? Hehe…istilahnya pas lho Kang!

Tabik!

Catatan: Tuisan ini adalah komentar untuk tulisan ini disini.  Karena relevan untuk perumusan teologi Kampung JagaD dimuat lagi disini. Diberi judul, Teologi Kampung Jagad (1). Harapannya, pak Susilo Ari mau melanjutkannya. Atau, ada yang mau melanjutkan, silahkan. (redaksi)

  • Share/Bookmark

Filed Under: Karya Komunitas

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.