Nonton Film Komunitas di Buayan
By dariman on Mar 27, 2009 with Comments 0 Printable version
Minggu pertama bulan Maret 2009, Kampung JagaD mengadakan acara kampanye keberdayaan warga kampung, melalui lomba-lomba. Acara yang bertema Hidup Berdaya di Kampung Halaman, mari kita pelihara dan berdayakan kampung kita itu berlangsung di halaman masjid al-Hidayah, desa Buayan. Diantaranya adalah lomba keagamaan, permainan, menulis, menggambar, dan membuat karya tangan. Lomba-lomba itu dikhususkan untuk anak-anak di sekitar majid itu.
Semua kegiatan lomba tersebut direkam dan dijadikan Film. Pada sabtu, 21 Maret 2009, pukul 17.30 WIB, Film tentang lomba-lomba itu diputar disanping masjid al-Hidayah. Pemutaran film menggunakan layar lebar yang dipasang dipapan masjid (plang nama). “Seperti jaman dulu ya, nonton layar tancap……,” komentar salah seorang penonton.
Acara nonton FIlm itu diawali dengan sambutan-sambutan, dari pengurus masjid, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Inti sambutan mereka salah satunya adalah mengajak warga untuk mendorong anak-anaknya untuk belajar, baik belajar ilmu agama atau belajar ilmu sosial yang lain. Mereka juga mereka merasa senang karena dengan adanya kegiatan seperti itu masjid menjadi ramai.
Sekitar 150 warga hadir menyaksikan film itu. Mereka tersebar di berbagai tempat. Bapak-bapak, dan ibu-ibu, banyak yang melihat dari kejauhan. Sesekali penonton tertawa, terbahak-bahak, bahkan saling ejek diantra mereka, ketika melihat gambar dirinya sendiri atau orang lain nampak dalam film tersebut. Perasaan terharu nampak menghiasi mimik wajah seorang ibu, ketika melihat anaknya menunjukan kemampuan berkaryanya.
Datang juga dalam acara tersebut lurah Kampung JagaD, Akhmad Murtajib. Juga teman-teman Kampung JagaD seperti Agus Mursalin dan Bahrun. Sesekali Ki Lurah dan kawan-kawan Kampung JagaD melepaskan tawanya, apalagi ketika melihat celoteh kepolosan anak-anak saat mempresentasikan hasil karya lomba nulis.
“Di sungai dulu banyak ikannya, tapi sekarang hilang karena disetrum oleh orang yang tidak bertanggung jawab, semoga Alloh memberi petunjuk kepada orang itu, biar ikan bisa besar,”penggalan kalimat yang dibacakan peserta lomba menulis daat mempresentasikan hasil tulisannya. Lucu, karena membacakan pengalan itu dengan suara cedal dan terpengal-pengal. Semua penonton menyambut dengan tawa riuh ketika berlangsungnya adegan tersebut.

FIlm berdurasi 80 menit tersebut telah melarutkan jiwa penonton, sehinga terlihat rasa gunda, stres, bunek, hilang seketika dengan melihat adegan-adegan dalam film tersebut.
DIskusi film
Tidak semua warga turut berdiskusi, hanya beberapa warga, remaja, pamong, dan pengurus masjid setempat. Sekitar 20 orang. Anak-anak dan ibu-ibu langsung pulang kerumah, karena waktu yang memang sudah larut malam dan anak-anak harus istirahat. Diskusi berlangsung ngalor-ngidul, karena memang belum terbiasa diskusi.
“Sebenarnya anak-anak punya potensi, tapi karena tidak adanya ruang, sehingga potensi anak-anak kurang tersalurkan atau terarahkan,” komentar pak Jawar, tokoh masyarakat).
“Anak-anak jadi lebih mengenal kondisi disekitar lingkungan,” tambah warga yang lain.
“Itulah anak-anak sebagai generasi penerus kita, maka dari itu mari kita berdayakan generasi-generasi tersebut,” tambah Dariman dari Kampug JagaD.
Diskusi film berlangsung tidak terlalu lama, sekitar pukul 22.20 WIB diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah bersama, dan warga pun pulang ke rumah masing-masing. (Dariman)
Filed Under: Uncategorized
About the Author:

