Paradigma pergeseran penanganan bencana
By admin on Jun 16, 2009 with Comments 0 Printable version
Apa yang dialami mas Akhmad Murtajib adalah bentuk pergeseran paradigma dalam
melihat bencana. Justru gejala ini yang sedang dikampanyekan oleh barbagai
pihak diseluruh dunia tentang DRR (disaster risk reduction)/PRB (pengurangan
resiko bencana). Pengalaman panjang berbagai pihak dan berbagai negara dalam
menangani bencana, akhirnya menemukan suatu pola yang barangkali paling tepat
hingga hari ini adalah mengurangi resiko bencana.
Kita semua tidur dalam ancaman bencana. Apalagi Indonesia, tiada hari tanpa
dinamika bumi indonesia ini, yang cenderung bisa menjadi proses bencana.
Apalagi dari sisi sosial, kebijakan, ekonomi, dan politik; juga sebagai sumber
bencana. Masih ingat bencana “Gempa 30juta SR di Jogja” (2 hari setelah 5.9 SR;
hebat kan) . Dan penanganan bencana adalah tanggung jawab kita semua (ini
spirit dari Protokol Hyogo dalam DRR/PRB), tidak saja masyarakat, tapi semua
elemen masyarakat. Ada plus dan minus-nya. Itu pasti. Yang perlu kita
kampanyekan adalah bagaimana : denyut nadi dan nafas jantung masing-masing
orang, selain sering menyebut nama Tuhan dalam dzikir dan pikir, tapi juga
selalu tanggap terhadap sebuah resiko. Mudahnya saja : bangun tidur.., resiko
apa yang kira-kira bisa kita alami dari bangun tidur, ke kamar mandi dll sampai
beraktivitas ke luar rumah, sampai kembali ke rumah, sampai mau tidur kembali
(resiko apa yang terjadi jika saya tidur di rumah ini, di kamar ini dst).
Bantuan mie instan yang sering menjadi “favorit dalam bantuan korban bencana”
saat ini, sebetulnya juga “tidak mendidik dan itu bagian dari bencana yang
lebih besar”. Disini ada ketergantungan dari pihak luar :
1. bagaimana kita mengoptimalkan sumberdaya lokal (kangkung, jagung, ketela
dst..yang biasa tumbuh di lingkungan masyarakat desa), sehingga ketika bencana,
sumberdaya lokal tersebut bisa menopang kebutuhan konsumsi saat darurat.
2. mie instan ? ingat bahan baku mie adalah impor semua, padahal itu produk
agroindustri. Kenapa indonesia yang negara pertanian, membuat mie saja harus
tergantung dari bahan baku agro dari luar. Ini kan bencana pembodohon produksi
dalam negeri.
3. semua unsur dalam mie instan adalah bahan kimia yang mudah membentuk ‘karat
lemak dalam pembuluh darah”; jadi konsumsi mie yang berlebihan mempunyai dampak
buruk terhadap kinerja otak dan kinerja stamina kita. Akhirnya jadi bencana
pesakitan diri kita. Jadi membantu mie instan bagi korban bencana itu tidak
malah menolong si korban bencana, tapi mempercepat resiko pesakitan bagi korban
bencana itu sendiri. Mendidik pola makan yang tidak sehat kan.
Yo..wis, akhirnya perbanyaklah dzikir resiko bencana dalam diri kita, selain
dzikir kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mari pak Ustazd, Pak Kyai, Habib, Pendeta,
atau pengajar agama di seluruh indonesia ajarkanlah ; dzikir resiko bencana
kepada masing-masing ummat / sedulur-sedulur kita.
Dengan memahami keseharian kita dalam dzikir resiko bencana dalam kehidupan
sehari-hari; maka kita akan mencoba mengurangi setiap “bencana menjadi ajang
proyek bencana” baik untuk proyek kemanusiaan, proyek rehab/rekons, proyek
mitigasi, proyek regulasi, maupun proyek kajian dst.
Salam
Agus Hendratno
http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg20337.html
Filed Under: Uncategorized
About the Author:
