Penebangan Pohon di DAS Telomoyo Kebumen

Beberapa  hari yang lalu tepatnya tanggal, 14 November 2009, kami dari Indipt berkunjung ke desa Madurejo. Kami kesana dalam rangka untuk bersilaturahmi menyambung gagasan tentang upaya resiko bencana. Waktu itu, disepanjang kanan kiri tanggul DAS Telomoyo terlihat tumbuh pohon-pohon besar, juga beberapa tanaman palawija. Namun, kamis, 18 November 2009, malam. Pemandangan disepanjang tanggul itu tidak lagi seperti pada waktu itu, sudah terang.

Suasana malam di desa tersebut terlihat sepi dan sunyi, tak terlihat segelintir orang pun lewat disepanjang jalan tanggul, hanya terdengar suara binatang malam, rintik hujan, dan gemuruh arus sungai. Sekitar pukul 19.00 WIB, kami tiba dirumah mas Supri (warga setempat, juga mitra Indipt), dan tak lama kemudian istri mas Supri menyuguhi kami kopi.

“Mas Supri, tadi dipinggiran kali terlihat terang, ndak ada rimbun-rimbunnya samasekali. Perasaan waktu kami kesini beberapa hari yang lalu, pinggiran kali itu masih banyak terlihat pohon-pohon,” kata Dariman mengawali obrolan malam itu.

Belum ditanggapi, Uun menambahi apa yang disampaikan Dariman, “Iya mas, jadi kelihatan serem, apa lagi mati lampu seperti ini, tadi sempet merinding juga,”

“Itu memang sengaja ditebang atau gimana, mas ?” lanjut Uun.

Sejenak mas Supri meneguk kopi buatan istrinya, dan menjelaskan apa yang ditanyakan Uun, “Beberapa hari yang lalu memang ada himbauan tegas dari pemerintah, yang isinya bahwa masyarakat tidak boleh memanfaatkan tanah tanggul, atau mendirikan bangunan, disepanjang pinggiran kali.” jelas mas Supri.

“Dipinggir jembatan dekat sekolahan SD kan ada plangnya, apa kemarin belum melihat ?” sambungn mas Supri.

plang-UU-sungai-indipt

“Iya sih, ada,” jawab Uun singkat.

Plang tersebut sepertinya belum lama dipasang, masih terlihat baru dan terkesan mendadak, setelah diketahui banyaknya pohon-pohon yang ditanam oleh masyarakat, dan kali itu terlihat rimbun.

“Dulu, sebenarnya sudah ada himbauan dari dinas terkait, tapi karena kurang adanya kesadaran masyarakat dan ketegasan dari dinas, sehingga masyarakat tetap memanfaatkan tanggul itu untuk dimanfaatkan. Yang namanya masyarakat awam kan tidak ngerti dampak dari penanaman tersebut, taunya ya, dari pada tanah kosong tidak dimanfaatkan, lebih baik ditanami dan dimanfaatkan, “ jelas mas Supri.

“Nah, tinggal sekarang. Ketika tanaman itu sudah tumbuh banyak, dari dinas baru mengintruksikan kepada kepala desa untuk melakukan pembersihan disepanjang DAS Telomoyo, dan jika tidak, pelaku bisa dikenai hukuman atau denda. Yang jelas disini ada tiga desa yang melakukan pembersihan, mulai dari desa Sugiwaras, Madurejo, Sidobunder, dan bahkan sampai muara sungai Telomoyo, “ lanjutnya.

penebangan_pohon-Das-indipt_0

Kami mencermati betul apa yang disampaikan mas Supri, tapi, ada hal yang menjadi pemikiran kami, dan sepertinya Uun ingin bertanya, tapi masih tertutup malu.

Mengapa baru saat ini penegasan dan pelaksanaan pembersihan tanggul disepanjang DAS Telomoyo itu dilakukan ? ketika musim hujan telah tiba. Bisa dibayangkan jika ternyata pembersihan itu tidak menjawab masalah, tapi malah menambah masalah. Misal terjadi seperti gambar dibawah ini.

penebangan_pohon-Das-indipt

Melihat kondisi seperti gambar diatas, kami merasa prihatin dengan apa yang dilakukan masyarakat sekitar DAS Telomoyo, terlebih pada dinas terkait yang melakukan upaya-upaya yang belum sensitif resiko bencana. Banyak hal yang tidak dimengerti, mengapa puing-puing pohon itu masih tetap dipinggir kali, tidak segera dipindah keatas tanggul atau kepekarangan warga, atau malah dimanfaatkan. Semoga ada tindakan selanjutnya, dan tidak menimbulkan hal yang selama ini sering melanda daerah tersebut (banjir)…. Amin.

  • Share/Bookmark

Filed Under: Berita: Lingkungan LestariLingkungan dan Bencanafeatured

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.