Pelatihan Pengelolaan Keuangan Keluarga di Ayamputih
By admin on Mar 27, 2009 with Comments 0 Printable version
Terpikirkah dalam benak kita bahwa segenggam cabai, seikat daun singkong, secuwil buah kelapa, dan lain sebagainya yang berasal dari pekarangan di sekitar rumah kita, bahwa itu semua merupakan pendapatan keluarga?
Selama ini masyarakat mengeluh, bahwa pendapatan tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga, apalagi disaat seperti sekarang ini dimana kebutuhan hidup serba mahal. Kenapa demikian ? Karena selama ini masyarakat beranggapan bahwa pendapatan itu berupa uang. Bisakah kita mencoba merubah cara pandang yang demikian ? Bisakah kita menganggap segenggam cabai yang kita petik dari halaman rumah sebagai pendapatan?

Seperti yang dikatakan Irma Suzanti, “Yang namanya pendapatan keluarga itu bukan hanya uang hasil kerja, atau hasil jualan. Seikat daun singkong pun juga pendapatan keluarga. Kenapa sekarang banyak orang bingung karena tidak ada pendapatan ? Karena yang dianggap pendapatan disitu adalah uang, dan yang dipikirkan setiap orang adalah kerja, kerja, dan kerja, untuk mendapatkan uang.” Irma mengatkan demikian dalam sebuah acara Pelatihan Pengelolaan Keuangan Keluarga, minggu, 1 Februari 2009 di desa Ayam Putih, Bulus Pesantren, Kebumen.
Pelatihan pengelolaan keuangan keluarga diikuti sekitar 15 warga, mereka adalah ibu-ibu yang beberapa kali mengikuti pertemuan sebelumnya.
Pelatihan dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, dirumah bu Nafsiah Rt 1 Rw 1 desa setempaat. Dalam pelatihan tersebut peserta dibagi menjadi 3 kelompok, yang masing-masing berperan sebagai sebuah keluarga. Ada yang berperan sebagai bapak, ibu, dan anak. Masing-masing kelompok bertugas mencatatkan pendapatan, pengeluaran, dan mempresentasikan hasil diskusi. Masing-masing kelompok didampingi teman-teman dari Indipt: Unwanulloh, Khoerul Makhrisah, Supraptiningsih, dan Irma Suzanti.

Semua bentuk pendapatan dan pengeluaran dirupiahkan, walau pun bentuk pendapatannya bukan uang. Selain itu, peserta juga mencantumkan nama yang mendapatkan atau yang mengeluarkan uang tersebut, dengan cara memberikan tandatangan.
Setelah istirahat sekitar pukul 12.15 WIB peserta mempresentasikah hasil diskusi, lalau evaluasi. Sebagian peseta menyadari pentingnya pencatatan keuangan keluarga. Karena, prinsip dari pengelolaan keuangan itu bukan semata mengelola uang sendiri, namun berdampak kepada hal lainnya. Diantaranya: pertama, adanya kebersamaan dalam keluarga, karena pengelolaan ini dilakukan secara bersama-sama seluruh anggota keluarga. Kedua, saling keterbukaan diantara anggota keluarga. Dan yang ketiga, kejujuran diantara anggota keluarga. Dari hasil evaluasi tersebut, ketiga hal ini diharapkan akan mencegah terjadinya kekerasan domestik.
Setelah pelatihan peserta juga akan mempraktekan model pengelolaan itu di rumah masing-masing INDIPT membagi buku praktek pengelolaan keuangan keluarga. Isi buku tersebut intinya sama seperti yang dipraktekan saat pelatihan. Pengisian buku tersebut juga akan didiskusikan dandievaluasi setiap dua minggu sekli.
