Beban ganda perempuan bekerja

Oleh: Unwanullah Masum

Perempuan bekerja adalah fenomena yang mengalami kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Meskipun tanpa melalui penelitian saya yakin bahwa asumsi ini tidak (terlalu) salah. Kalau kita cermati saat ini semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan politik, pemerintahan, perusahaan, sampai pada perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik. Juga semakin banyak perempuan yang bekerja pada sector-sektor swasta dan informal seperti pedagang, pembantu rumah tangga dll.

Adanya kecenderungan meningkatnya perempuan bekerja ini sejalan dengan lebih terbukanya akses pendidikan untuk perempuan sehingga semakin banyak perempuan yang berpendidikan. Yang kemudian ingin mengaktualisasikan dirinya. Selain itu, dalam konteks Indonesia sebagai negara miskin, perempuan bekerja ini juga didorong untuk ikut mencukupi kebutuhan keluarga. Perempuan bekerja seperti di atas adalah perempuan yang melakukan kerja-kerja produktif yaitu kerja yang berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, papan dan pangan.

Selain bekerja di sektor publik, perempuan juga melakukan pekerjaan rumah yang memakan waktu cukup banyak setiap harinya. Seperti mengurus rumah tangga, mengasuh anak, memasak, mencuci, dll. Pekerjaan yang disebut sektor domestik ini dianggap bukan pekerjaan karena secara budaya, perempuan memang diposisikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Dalam budaya Jawa misalnya, perempuan dianggap sebagai “konco wingking” yang wilayah kerjanya adalah dapur, sumur dan kasur. Stereotip ini dikokohkan dengan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 31 ayat 3 yang berbunyi “Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga”. Di sini terlihat bahwa dalam memandang keluarga, negara masih begitu  “laki-laki“.

Perempuan ditempatkan sebagai orang yang harus melakukan aktivitas rumah tangga, atau kerja-kerja reproduktif, artinya kerja-kerja “memproduksi manusia”, bukan sebatas kerja-kerja biologis perempuan seperti hamil, melahirkan, menyusui namun juga mencakup pula pengasuhan, perawatan sehari-hari manusia baik fisik maupun mental (Swara Rahima). Selain yang sudah disebutkan di atas, pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah juga termasuk kerja-kerja reproduksi karena dilakukan untuk menopang kelanjutan proses produksi. Sebagian besar kerja reproduksi terutama pada keluarga miskin dilakukan oleh perempuan.

Kecenderungan perempuan yang bekerja di sector publik / produksi tidak mengurangi beban kerja kerja reproduksi mereka. Dari catatan Workshop Mencegah Kekerasan dalam Keluarga yang diadakan oleh Indipt akhir April 2009 kemarin, perempuan yang melakukan pekerjaan di luar rumah seperti bertani, berdagang, membuat emping atau kesed juga tetap harus melakukan kerja-kerja reproduksi. Sehingga dalam sehari semalam, sebagian besar waktu perempuan dicurahkan untuk keluarganya.

Dari jadual aktivitas sehari-hari yang dibuat oleh peserta Workshop, perempuan harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan dapur, mengasuh anak kemudian melakukan pekerjaannya sampai tengah hari untuk istirahat sejenak. repotnya, ketika istirahatpun perempuan masih dibebani dengan pekerjaan di rumah; menyiapkan makan siang, mengasuh anak. Setelah itu baru melanjutkan pekerjaannya sampai sore. Untuk kembali melakukan pekerjaan reproduktif sampai malam. Di sela-sela waktu ini, beberapa perempuan masih menyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya seperti membuat kesed, mengupas kulit mlinjo, dan lainnya.

Bandingkan dengan laki-laki yang bangun paginya sedikit lebih siang itupun hanya untuk menikmati minuman pagi dan sarapan, baru kemudian berangkat kerja sampai tengah hari. Lalu istirahat dan makan siang, melanjutkan pekerjaannya sampai sore, istirahat, makan dan bersantai sampai melam hari. Di malam hari, paling mereka melakukan aktivitas social seperti ngendong ke tetangga, kumpulan RT, tahlilan dll yang biasanya hanya beberapa hari sekali.

Dari contoh di atas, sangat terlihat adanya beban ganda perempuan, di satu sisi mereka harus mengerjakan pekerjaan reproduktif, di sisi lain, baik karena aktualisasi diri atau tuntutan ekonomi mereka melakukan kerja-kerja produktif. Tanpa adanya pembagian kerja-kerja reproduktif secara lebih seimbang.

Beban ganda yang dialami oleh perempuan sampai saat ini masih dianggap sebagai kewajaran dalam masyarakat kita. Padahal beban ganda yang dialami oleh perempuan adalah salah satu bentuk kekerasan domestik sebagai dampak dari pembagian peran yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan.

  • Share/Bookmark

Filed Under: ArtikelKekerasan Berbasis Gender

Tags:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.