Bedah bulletin Setara di Komunitas Indrosari, Kebumen

Sore itu, Jum’at, 30 Oktober 2009, puluhan warga Indrosari menuju kediaman Kepala Desa Indrosari, Bapak Slamet. Kedatangan warga yang didominasi oleh kaum ibu dan anak-anak bukan untuk demo, atau ada pembagian beras (raskin) seperti yang mereka lakukan, ketika bantuan raskin datang. Kedatangan warga adalah menghadiri silaturakhmi, sekaligus bedah Buletin SETARA Edisi X yang diselenggarakan INDIPT dengan masyarakat Indrosari.

bedah_setara_komunitas_indipt_1

Tepat pukul 14.00 WIB acara dimulai, dengan pengantar Supraptiningsih dari INDIPT yang menyampaikan maksud dan tujuan acara pada sore itu. Dan dalam kesempatan itu pula, disampaikan Buletin Setara kepada warga yang hadir. Tampak hadir Kepala Desa Indrosari, Kepala Dusun Banjaran, Ibu Nyai Juwariyah, dan Ibu Nyai Sofiyah.

Selesai pembukaan oleh Supra, sapaan akrab Supraptiningsih, acara dilanjutkan oleh Irma. Irma menceritakan tema utama dalam bulletin Setara, tentang keluarga sakinah tanpa kekerasan. “Ungkapan semoga menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rahhmah seringkali kita ucapkan, dalam memberikan selamat kepada pengantin baru, atau hal itu memang menjadi do’a dalam keseharian kita,” katanya.

“Namun demikian,” lanjutnya, “hal itu mudah diucapkan tapi sulit untuk mewujudkan, dan butuh waktu yang tidak singkat. INDIPT dalam hal ini mempunyai mimpi atau angan-angan, bagaimana agar harapan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dapat terwujud melalui membangun kesetaraan adalam keluarga. Juga dengan mengelola atau mengatur keuangan keluarga .”

Dalam kesempatan tersebut, ibu Siti Sangadah menyampaikan unek-unek masalah keluarganya, “Mohon maaf sebelumnya, saya sebenarnya tidak ingin mengungkapakan rahasia keluarga. Tapi mumpung ada acara ini saya ingin menyampaikan persoalan di dalam keluarga saya, dimana saya sebagai seorang istri tidak berani ngomong atau mengutarakan sesuatu pendapatan, atau masukan kepada suami. Kebetulan suami saya mempunyai watak yang keras. Kira-kira bagaimana pemecahannya?”.

Menjawab pertanyaan tersebut, Irma mengatkan bahwa “Ketika seorang istri atau anggota keluarga tidak berani mengutarakan pendapat, memberi masukan kepada anggota keluarga yang lain, hal itu sama artinya relasi atau hubungan dalam keluarga tidak setara, alias timpang. Dimana dalam kasus tersebut, istri posisinya lebih rendah. Hal ini bisa terjadi karena suami merasa yang paling bertanggungjawab atas keluarga. Pun juga bisa terjadi karena selama ini masyarakat masih memposisikan laki-laki lebih tinggi. Nah, hal inilah yang membuat suami tidak mau menerima pendapat atau masukan dari istri. Oh ya, dalam bulletin ini juga diceritakan tentang hal itu, di halaman 6 tentang Membangun Kesetaraan dalam Kelaurga”.

bedah_setara_komunitas_indipt_2

Berbagai tanggapan dan masukan juga muncul sore itu. Misanya masukan ibu Isti Khorotus Sangadah, yang memberi masukan agar dalam buletin setara edisi selanjutnya ada sebuah artikel tentang cara mendidik anak yang baik. Hal tersebut berangkat dari pengalaman pribadi dan beberapa warga Indrosari yang mempunyai masalah sama, yaitu kesulitan dalam mendidik anak. Mba Isti juga menyarankan agar di Buletin SETARA ada tips-tips praktis, seperti pembuatan kerajinan atau makanan dari hasil kebun yang bisa untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.

Pada kesempatan itu pula, beberapa ibu menceritakan pengalamannya dalam praktek Manajemen Keuangan Keluarga (MKK), diantaranya ibu Siti Honimah dan ibu Maemunah. Dimana mereka kesulitan dalam mempraktekan MKK, karena adanya hambatan dari pihak suami. Suami merasa keberatan ketika pendapatan atau pengeluaran keuangan dicatat.

bedah_setara_komunitas_indipt

Kepala desa Indrosari di, Tirto Irawan, di akhir acara menyampaikan harapannya kepada INDIPT. “Saya secara pribadi maupun atas nama Pemerintah Desa Indrosari berharap betul, agar kegiatan atau program yang dilakukan oleh INDIPT dilanjutkan lagi di Indrosari. Mengingat sudah banyak manfaat yang kita dapatkan, yang terpenting adalah adanya wawasan baru bagi warga Indrosari tentang membangun keluarga yang sakinah, terhindar dari kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun kelihatannya di desa kami keluarganya adem ayem, harmonis tapi banyak diantaranya yang menyimpan bara dan bahkan ada kekerasan di keluarga. Jadi intinya program dilanjutkan lagi,” katanya.

Pukul 16.30 WIB acara ditutup dengan membaca do’a, serta mengagendakan pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan November 2009. (Irma Suzanti)

  • Share/Bookmark

Filed Under: Berita: Gender dan KeluargaGender dan KeluargaIndrosari

Tags:

RSSComments (2)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. wah saik nih kapan bisa ikutan kaya gitu yah pak

  2. Bahrun Ali M says:

    kapan yah bisa ikutan kaya gitu

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.