Gupak, Gardu Ngapak Edisi III, Tema: “Banyak kasus, miskin program, kenapa?”.
Seringkali masyarakat mengeluh karena desanya tidak mendapatkan program tertentu dari pemerintah. Padahal program-program itu sangat diperlukan untuk menjawab persoalan yang dihadapi mereka.
Contohnya Kecamatan Ayah sebagai kantong TKI (Tenaga Kerja Indonesia) terbesar di Kebumen. Meskipun kecamatan ini banyak TKI, tapi program berkait perlindungan TKI hampir tidak ada, karena memang selama ini program untuk perlindungan Buruh Migran yang ada di pemerintahan Kebumen sangat minim.
Padahal program perlindungan bagi TKI itu sangat diperlukan untuk memberikan bekal bagi para calon TKI. Bekal berupa pengetahuan mengenai hak-hak TKI, mengenai bagaimana cara mengurus surat-surat untuk TKI, apa yang akan mereka lakukan bila menghadapi masalah, dan semacamnya.
Contoh lainnya, mengenai perlindungan bagi korban KDRT. Ada program dari pemerintah kabupaten Kebumen berkait dengan perlindungan korban KDRT, seperti sosialisai menegnai KDRT. Tapi kegiatan sosialisasi dilaksanakan justru di daerah yang sedikit kasus KDRT. Sementara desa yang banyak terjadi kasus KDRT tidak tersentuh.
Dua contoh di atas memberikan gambaran bahwa program pemerintah nampaknya tidak dilandasi dengan melihat kondisi di lapangan, sehingga program yang ada justru tidak berdampak besar. Dalam contoh di atas, program perlindungan TKI tidak berdampak besar bagi perlindungan TKI di daerah yang banyak TKI-nya. Juga, program perlindungan KDRT tidak banyak berdampak di daerah yang banyak kasus KDRT-nya.
Pertanyaannya, apakah karena dana untuk program itu yang ada di pemeritah Kebumen sedikit? Atau karena tidak adanya indikator yang jelas dalam penentuan program? Atau karena isu TKI/BMI dan KDRT tidak menarik?
Mari ngobrol soal-soal di atas dalam acaa Gupak, Gardu Ngapak, edisi III di Radio Prima FM 103,3 FM, Jumat 4 November 2011 pukul 19.00- 20.00 Wib. Gardu Ngapak ini dipersembahkan oleh lembaga INDIPT Kebumen.
Benarnya program banyak tapi program lebih beroren tasi proyek fisik yang di paahami oleh pejabat pemerintah, karena pemperdayaan tidak aada hasil yang bisa di sempil dari sisi manapun.
itu lah jeleknyapemerintah kita yang haya berorentasi menperkaya diri, bukan menperkaya pengetahuan dan menperkaya kemaslahatan orang banyak.
kalo kami bilang pemeinpin atau wakil rakyat masih di pertanyakan, dia wakil rakyat apa wakil partai yang duduk di kursi dengan atasnama pilihan rakyatnya. tapi enak-enak duduk tampa memikirkan rakyat tapi bagaimana dapat proyet untuk bisa di sempil.
itu hampir seluruha peminpin pemerintahan yang di umakan pro bukan asal maslah yang terjadi di masyrakatnya apa.